INTEGRASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
by Melgis Dilkawaty Pratama, S.Pd
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Tahun 2013
Pelajaran bahasa
Inggris merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah. Dalam
proses pembelajarannya, murid diajarkan bagaimana menerapkan bahasa Inggris
dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keahlian mendengarkan (listening),
berbicara (speaking), membaca (reading), maupun menulis (writing). Dalam
penyampaiannya, murid harus memperhatikan unsur nilai dan budaya yang berlaku
pada bahasa tersebut sehingga mereka dapat menerapkannya secara kontekstual.
Perlu diketahui bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa yang berlaku di beberapa
negara, seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia, dll. Di negara-negara
tersebut, unsur nilai dan budaya yang mereka terapkan sangat jauh berbeda
dengan unsur nilai dan budaya di Indonesia, bahkan sebagian dari nilai dan
budaya mereka justru bertentangan dengan nilai dan budaya yang dianut oleh
penduduk Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim. Sehingga muncul
kekhawatiran “more English, less Islam”, semakin banyak pengetahuan tentang
bahasa Inggris, semakin berkurang nilai-nilai keIslaman dalam diri seorang
murid. Hal ini menjadi landasan renungan bagi banyak pihak terutama di kalangan
pendidik tentang bagaimana pendidikan bahasa Inggris dapat menerapkan
nilai-nilai Islam sehingga tidak ada istilah dikotomi antara ilmu agama dan
ilmu umum.
Pendidikan nilai dianggap menjadi jawaban
dalam permasalahan tersebut bagi banyak kalangan. Hal ini dikarenakan
pendidikan nilai dapat mengembangkan watak optimisme dalam diri manusia,
memberikan kesadaran kritis agar manusia mampu mengembangkan penalaran,
memanggil kepada manusia akan kebenaran hakiki, dan memberikan pencerahan iman
serta akal budi manusia. Pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan yang mampu
meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang memiliki semangat kemandirian,
sikap demokratis, dan kesadaran nilai yang kuat, disamping kemampuan
intelektual yang memadai. Oleh karena itu, melaksanakan pendidikan nilai baik
secara khusus maupun dalam keseluruhan dimensi pendidikan menjadi sangat
penting untuk diupayakan.
Nilai-nilai Islam
yang merupakan nilai yang bersumber langsung dari al-Quran dan Hadits memiliki
arti penting dalam pendidikan nilai, terutama bagi umat muslim. Nilai-nilai Islam
menjadi landasan yang kuat yang akan mengantarkan manusia menggapai kebahagiaan
hidup. Tanpa hal tersebut, segala atribut duniawi, seperti harta, pangkat,
iptek, dan keturunan, tidak akan mampu mengantar manusia meraih kebahagiaan
baik di dunia maupun akhirat. Nilai-nilai Islam dapat diintegrasikan dalam
proses pembelajaran di sekolah. Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran
yang tidak hanya mampu mengantarkan siswa pada ketercapaian pengetahuan (domain
kognitif) saja, tetapi juga ketercapaian pemahaman dan penerapan nilai-nilai Islam.
Permendiknas
No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) juga menyuratkan
kebutuhan implementasi pembelajaran terintegrasi. Salah satunya dapat dicermati
pada SKL Kelompok Ilmu pengetahuan dan Teknologi; membangun dan menerapkan informasi, pengetahuan,
dan teknologi secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
menunjukkan kemampuan berpikir logis,
kritis, kreatif, dan inovatif secara mandiri; menunjukkan kemampuan
mengembangkan budaya belajar
untuk pemberdayaan diri; menunjukkan sikap kompetitif, sportif, dan etos
kerja untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang iptek; menunjukkan
kemampuan menganalisis dan memecahkan
masalah kompleks; menunjukkan kemampuan menganalisis fenomena alam dan sosial sesuai dengan kekhasan daerah masing-masing; memanfaatkan
lingkungan secara produktif dan
bertanggung jawab, berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan
santun melalui berbagai cara termasuk
pemanfaatan teknologi informasi; menunjukkan kegemaran membaca dan menulis; menunjukkan
keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia
dan Inggris, dan menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti
pendidikan tinggi. Mencermati SKL pada kelompok Ilmu pengetahuan dan teknologi
tersebut, jika semua kompetensi tersebut telah dimiliki oleh para murid tanpa
disertai pendidikan nilai, maka tentu saja kesalahan interpretasi dalam
penerapan kompetensi-kompetensi tersebut dalam kehidupan sehari-hari akan
sangat mungkin terjadi. Pengintegrasian nilai-nilai Islam dalam pembelajaran
bahasa Inggris diharapkan dapat menjadi arah atau panduan bagi para murid dalam
menerapkan kompetensi-kompetensi yang mereka miliki dalam kehidupan
sehari-hari. Melalui pembelajaran
terintegrasi diharapkan esensi dari pembelajaran yaitu pengembangan pribadi
peserta didik dapat dicapai secara berkelanjutan.
INTEGRASI
Kata “integrasi” berasal dari bahasa
latin “integer”, yang berarti utuh atau menyeluruh. Berdasarkan arti etimologis
tersebut, integrasi dapat diartikan sebagai pembauran hingga menjadi kesatuan
yang utuh atau bulat. Dalam bahasa Inggris, integrasi berasal dari kata “integration”
yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan.
Dikotomi yang begitu ketat antara
ilmu-ilmu agama dan sekuler, tentunya sangat disayangkan, karena telah mengarah
pada pemisahan yang tidak bisa dipertemukan lagi, bahkan cenderung pada
penolakan keabsahan masing-masing dengan menggunakan metode yang juga sangat
berbeda dari sudut jenis, dan prosedurnya. Demikian tegas pemisahan diantara
mereka; sehingga kedua kelompok ilmu tersebut seakan takkan pernah bisa
dipersatukan, dan harus dikaji secara terpisah dengan cara dan prosedur yang
berlainan. Meskipun demikian, dalam sistem ilmu yang integral-holistik,
pemisahan tersebut masih bisa dibatasi dengan cara menemukan basis yang sama
bagi keduanya.
Di dalam Islam, tidak ada yang
namanya batasan dalam menuntut ilmu, selama ilmu tersebut memberikan manfaat. Pentingnya
mempelajari ilmu-ilmu selain ilmu Agama menurut al-Qur’an dan sunnah bisa
didasari beberapa alasan, yaitu:
1.
Jika pengetahuan merupakan persyaratan untuk
pencapaian tujuan-tujuan Islam dalam hal syariah, maka mencari ilmu
tersebut merupakan kewajiban untuk memenuhi kewajiban syariah. Misalnya,
mempelajari ilmu obat-obatan karena kesehatan merupakan hal penting dalam Islam.
2.
Al-Qur’an menghendaki umat Islam menjadi umat yang
agung dan mulia sehingga tidak bergantung kepada orang kafir. Oleh karena itu
umat Islam harus memiliki keahlian di berbagai bidang, sehingga memiliki
spesialis hebat dan teknisi handal.
Manusia telah diperintahkan untuk
mempelajaran sistem keajaiban alam dan skema pencipt a dalam Al Quran (Qaf:
5-6) sebagai berikut:
óOn=sùr& (#ÿrãÝàZt n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# ôMßgs%öqsù y#øx. $yg»oYøt^t/ $yg»¨Yyur $tBur $olm; `ÏB 8lrãèù ÇÏÈ aan manusi
uÚöF{$#ur $yg»tR÷ytB $uZøs)ø9r&ur $pkÏù zÓźuru $uZ÷Fu;/Rr&ur $pkÏù `ÏB Èe@ä. £l÷ry 8kÎgt/ ÇÐÈ ZouÅÇö7s? 3tø.Ïur Èe@ä3Ï9 7ö6tã 5=ÏYB ÇÑÈ
Maka Apakah mereka tidak
melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan
menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? Dan Kami
hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami
tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, Untuk menjadi
pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).[1]
Seringkali kita memahami bahwa ilmu
Allah itu terdiri dari ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qouliyah, sebenarnya di
dalam QS. Fushshilat (41): 53, mengisyaratkan adanya dua kategori ilmu yang
berbeda yaitu ilmu mengenai cakrawala ("afaq") dan ilmu mengenai diri manusia (anfusihim).
óOÎgÎã\y $uZÏF»t#uä Îû É-$sùFy$# þÎûur öNÍkŦàÿRr& 4Ó®Lym tû¨üt7oKt öNßgs9 çm¯Rr& ,ptø:$# 3 öNs9urr& É#õ3t y7În/tÎ/ ¼çm¯Rr& 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« îÍky ÇÎÌÈ
“Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan
pada diri mereka sendiri”.
Menurut al-Quran ilmu itu bukan
dikategorikan atas dua macam; kauniyah (ilmu-ilmu alam, nomothettic) dan qouliyah (ilmu-ilmu theological), tetapi tiga macam yaitu nafsiyah. Kalau ilmu kauniyah berkenaan dengan hukum alam, ilmu
qauliyah berkenaan dengan hukum Tuhan, dan ilmu nafsiyah berkenaan dengan
makna, nilai dan kesadaran. Ilmu nafsiyah inilah yang disebut sebagai humaniora (ilmu-ilmu kemanusiaan, heurmeneutic). Meskipun dalam bahasa
arab ilmu nafsiyah ialah
psikologi. Ketiga macam ilmu tersebut bersumber pada ilmu Allah sebagai
satu-satunya sumber kebenaran mutlak, sehingga berbagai derivasi keilmuan
merupakan satu kesatuan bukanlah sebuah dikotomi. Secara skematik ketiga macam
ilmu (kauniyah, Qouliyah dan nafsiyah) dapat terintegrasi dengan kelompok mata
pelajaran sebagai salah satu bentuk spesialisasi integrasi pendidikan Islami
dalam pembelajaran.
Dari pembahasan tersebut, al-Quran
menganut paham integralistik dalam bidang ilmu pengetahuan. Seluruh Ilmu dari
alam raya (ilmu-ilmu fisika, kimia, dll), tingkah laku manusia (ilmu-ilmu
sosial), wahyu atau ilham (ilmu agama, tasawuf, filsafat) adalah bersumber dari
Allah. Hal lain yang mendasar adalah al-Quran amat menekankan pentingnya
hubungan harmonis antara ilmu dan iman. Ilmu tanpa iman akan tersesat, dan iman
tanpa ilmu tidak akan berdaya.
PENDIDIKAN NILAI
Pendidikan nilai mencakup seluruh aspek sebagai pengajaran atau bimbingan kepada peserta
didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan, melalui proses
pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan bertindak yang konsisten.
Tujuan pendidikan di sekolah
ditentukan oleh kurikulum sekolah. Kurikulum pendidikan nilai di sekolah harus
terdiri atas nilai-nilai, norma-norma, kebudayaan dan kegiatan-kegiatan yang
mampu membentuk anak didik menjadi manusia berkemampuan tinggi, sehingga dapat
mencapai ilmu pengetahuan dan teknologi canggih, mampu mandiri dan
berkepribadian.
PENDIDIKAN ISLAM
1.
Hakikat Pendidikan Islam
Nur Uhbiyati mengemukakan pendidikan
Islam merupakan konsep berpikir yang bersifat mendalam dan terperinci tentang
masalah kependidikan yang bersumberkan ajaran Islam dari mana rumusan-rumusan
tentang konsep dasar, pola, sistem, tujuan, metoda dan materi (substansi)
kependidikan Islam disusun menjadi suatu Ilmu yang bulat.[2]
Hakikat pendidikan Islam adalah
proses membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan anak didik agar
menjadi manusia dewasa sesuai tujuan pendidikan Islam. Hakikat Pendikan Islam
meliputi lima prinsip pokok, yaitu:
Pertama, proses
transformasi dan internalisasi yakni pelaksanaan pendidikan Islam harus
dilakukan secara bertahap, berjenjang dan kontinu dengan upaya pemindahan,
penanaman, pengarahan, pengajaran, dan pembimbingan yang dilakukan secara
terencana, sistematis, dan terstruktur dengan menggunakan pola dan sistem
tertentu.
Kedua, ilmu
pengetahuan dan nilai-nilai yakni upaya yang diarahkan kepada pemberian dan
penghayatan serta pengalaman ilmu pengetahuan dan nilai-nilai.
Ketiga, pada diri
anak didik yakni pendidikan itu diberikan kepada anak didik yang mempunyai
potensi rohani.
Keempat, melalui
penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya yakni tugas pendidikan Islam
menumbuhkan, mengembangkan, memelihara dan menjaga potensi laten manusia agar
ia tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan, minat, dan bakat-nya.
Kelima, guna
mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya, yakni tujuan
akhir dari proses pendidikan Islam adalah terbentuknya Insan Kamil.
Dalam perspektif Pendidikan Islam,
agar manusia mendapatkan predikat sebagai khlaifah sekaligus sebagai ‘abd, maka harus menuntut ilmu yang
sifatnya terpadu. Ilmu atau pengetahuan terpadu dapat didefinisikan sebagai
ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui kawasan alam semesta dan alam
sekitarnya serta dikirimkan melalui wahyu yang dapat ditangkap oleh para nabi
dan rasul. Ilmu yang demikian itu merupakan ilmu yang dijiwai oleh tauhid
karena dibimbing oleh “kebenaran mutlak”.
2.
Tujuan Pendidikan Islam
Pada umumnya, tujuan pendidikan Islam diklasifikasikan menjadi empat
macam, yaitu: Pertama, tujuan
pendidikan jasmani. Kedua,
tujuan pendidikan rohani. Ketiga, tujuan
pendidikan akal. Keempat,
tujuan pendidikan sosial. Sedangkan, tujuan pendidikan menurut membuat
klasifikasi sebagai berikut:
Pertama,
mengembangkan wawasan spiritual yang semakin mendalam dan mengembangkan
pemahaman rasional mengenai Islam dalam konteks kehidupan modern.
Kedua, membekali
anak didik dengan berbagai kemampuan pengetahuan dan kebajikan, baik
pengetahuan praktis, kesejahteraan, lingkungan sosial, dan pembangunan
nasional.
Ketiga,
mengembangkan kemampuan pada diri anak didik untuk menghargai dan membenarkan
superioritas komparatif kebudayaan dan peradaban Islam di atas semua kebudayaan
lain.
Keempat, memperbaiki
dorongan emosi melalui pengalaman imajinatif, sehingga kemampuan kreatif dapat
berkembang dan berfungsi mengetahui norma-norma Islam yang benar dan yang
salah.
Tujuan
akhir pendidikan Islam ialah merealisasikan manusia yang beriman dan bertakwa
serta berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan dirinya kepada Khaliknya
dengan sikap dan kepribadian bulat yang merujuk kepada penyerahan diri
kepadaNya dalam segala aspek hidunya, duniawi dan ukhrawi.
3.
Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan Islam memiliki
beberapa prinsip yang harus ditegakkah. Al Syaibani menyebutkan tujuh prinsip
kurikulum pendidikan Islam, yaitu:[3]
a.
Prinsip pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk
ajaran dan nilai-nilainya. Setiap bagian yang terdapat dalam kurikulum, mulai dari
tujuan, kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan, dan sebagainya harus
berdasarkan pada agama, dan akhlak Islam. Yakni harus terisi dengan jiwa agama
Islam, keutamaan, cita-cita, dan kemauan yang baik sesuai dengan ajaran Islam.
b.
Prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan-tujuan dan
kandungan kurikulum, yakni mencakup tujuan membina akidah, akal, dan jasmani,
dan hal lain yang bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangan spritiual,
kebudayaan, sosial, ekonomi, politik termasuk ilmu-ilmu agama, bahasa,
kemanusiaan, fisik, praktis, profesional, seni rupa, dan sebagainya.
c.
Prinsip keseimbangan yang relatif antara tujuan-tujuan
dan kandungan kurikulum.
d.
Prinsip keterkaitan antara bakat, minat,
kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan pelajar. Begitu juga dengan alam sekitar
baik yang bersifat fisisk maupun sosial dimana pelajar itu hidup dan
berinteraksi.
e.
Prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual di
antara para pelajar, baik dari segi minat maupun bakatnya.
f.
Prinsip menerima perkembangan dan perubahan sesuai
dengan perkembangan zaman dan tempat
g.
Prinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran
dengan pengalaman-pengalaman dan aktifitas yang terkandung dalam kurikulum.
INTEGRASI NILAI ISLAM DALAM PEMBELAJARAN BAHASA
INGGRIS
Dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam
dalam pembelajaran Bahasa Inggris, ada beberapa aspek yang perlu disinergikan, antara
lain:
1.
Pendekatan
Untuk
pengintegrasian nilai-nilai islam ke dalam pembelajaran bahasa Inggris, ada
beberapa pendekatan yang dapat ditempuh, antara lain:[4]
a.
Pendekatan Kurikuler
Pendekatan Kurikuler ialah suatu pendekatan dimana
lembaga pendidikan memberikan warna “Islam dalam kependidikannya. Hal ini
dengan mendampingkan ilmu agama dengan ilmu umum. Misalnya, di Universitas
Islam Negeri; mendampingkan fakultas umum dan fakultas agama.
b.
Pendekatan
kontekstual-fungsional
Pendekatan konstektual-
fungsional merupakan upaya menjawab pertanyaan agar semua
bidang studi yang disajikan selalu memakai kacamata tinjauan Islam. Namun
sandungan utama untuk merealisasikan gagasan ini terletak pada tenaga pengajar.
Tidak banyak tenaga pengajar yang dapat menguasai disiplin ilmu umum dan agama
sekaligus secara komprehensif.
Sebagai seorang pendidik, kita
dihadapkan pada sifat sekular yang di terapkan oleh pendidik western pada
pendekatan pengajaran di semua cabang ilmu pengetahuan. Sementara, kita
meyakini bahwa nilai-nilai Islam dapat diterapkan melalui aktifitas dan
interaksi antara pendidik dan para murid seperti menerapkan nilai dasar Islam
ketika mengucapkan salam, meninggalkan tempat, melaksanakan diskusi, membaca
doa ketika memulai dan menutup pelajaran, dll dimana semua aktifitas tersebut
juga dapat dibarengi dengan praktik berbahasa Inggris. Sebagai contoh, biasanya
dalam mengucapkan salam, guru mengucapkan “Good Morning/Afternoon/Evening. How
are you today?”. Kita dapat menggantinya dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum,
peace be upon him, and good morning/afternoon/evening, everyone. How are you
today?”. Kemudian, jika hendak memulai dan mengakhiri pelajaran, para murid
harus berdoa terlebih dahulu. Disamping itu, dalam pengelolaan kelas, kita juga
dapat menekankan integritas Islam dalam permasalahan gender. Sedari dini,
hendaknya, para murid diperkenalkan untuk duduk terpisah antara laki-laki dan
perempuan baik dalam mengerjakan tugas belajar sehari-hari maupun dalam
interaksi diskusi. Dengan memperkenalkan aturan tersebut, diharapkan para murid
dapat memahami bahwa Islam memiliki aturan yang jelas dalam hal bersosialisasi.
Dimulai dari hal-hal yang sederhana, penerapan nilai-nilai Islam dalam konteks
kehidupan muslim sehari-hari hendaknya dapat dihayati dengan lebih baik.
2.
Kurikulum Pendidikan
Landasan pokok penyusunan kurikulum Islami
harus memuat prinsip: a) Mengandung nilai kesatuan dasar bagi persamaan nilai Islam
pada setiap waktu dan tempat; b) mengandung nilai kesatuan kepentingan dalam
mengembangkan misi ajaran Islam; c) mengandung materi yang bermuatan
pengembangan spiritual, intelektual dan jasmaniah.
Batasan
tentang ciri khas kurikulum yang Islami adalah sebagai berikut: 1) Sistem dan
perkembangan kurikulum selaras dengam fitrah manusia; 2) diarahkan untuk
mencapai target akhir pada peserta didik yaitu ikhlas dan taat beribadah kepada
Allah; 3) Memperhatikan periodesasi perkembangan peserta didik, tipologi,
sifat, dan gender; 4) hendaknya memelihara segala kebutuhan nyata kehidupan
masyarakat sambil tetap bertopang pada jiwa dan cita-cita ideal Islam; 5) tidak
menimbulkan pertentangan dalam arti yang umum; 6) dapat direalisasikan sesuai
dengan situasi dan kondisi; 7) Bersifat luwes sehingga dapat disesuaikan dengan
berbagai kondisi dan situasi setempat dengan mengingat pula faktor peradaban
individu yang menyangkut bakat, minat, dan kemampuan anak didik; 8) bersifat
efektif, menyampaikan dan menggugah perangkat nilai edukatif yang membuahkan
tingkah laku yang positif; 9) memperhatikan perkembangan anak didik (perasaan
keagamaan dan pertumbuhan bahasa); 10) Memperhatikan tingkah laku amaliah Islamiah.
Tentang prinsip yang menjadi pertautan
dasar kurikulum, al-Syaibani memberikan uraian sebagai berikut; Pertama, pertautan yang sempurna
dengan ajaran dan jiwa agama. Kedua,
bersifat universal yang meliputi segala aspek pribadi peserta didik. Ketiga, memperhatikan aspek
keseimbangan antara spiritual dan material. Keempat, berkaitan dengan bakat dan minat serta kemampuan anak
didik dan kondisi sosial lingkungannya. Kelima,
pemeliharaan perbedaan individu anak didik, alam sekitar dan masyarakat. Keenam, prinsip perkembangan dan
perubahan kurikulum untuk progredifitas dalam rangka menyesuaikan diri dengan
perubahan sosial. Ketujuh,
pertautan antara mata pelajaran, pengalaman, dan aktivitas yang terkandung
dalam kurikulum.
Berdasarkan penjelasan diatas, ada
dua proses pengintegrasian nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran bahasa
Inggris.
a.
Proses Pertautan
Proses pertautan, melibatkan dua
kurikulum, yakni kurikulum agama dan kurikulum bahasa inggris menjadi suatu
tautan yang mana masing-masing komponent masih berdiri sendiri dan memiliki
karakter tersendiri.
![]() |

![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
b.
Proses Pencampuran
![]() |
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
3. Metode Pengajaran
Upaya untuk
mengintegrasikan nilai-nilai islam dalam pembelajaran Bahasa Inggris tidak
hanya berlaku pada pendekatan, dan kurikulum pendidikan, namun juga berlaku
pada metode pengajaran. Selain mengembangkan metode pengajaran yang sering
digunakan pada pengajaran bahasa inggris,seperti communicative language
teaching, collaborative learning, etc. Tenaga pengajar juga dituntut untuk
dapat menerapakan metode pengarajan yang diterapkan dalam pendidikan Islam.
Berikut metode pengajaran yang diterapkan dalam pendidikan Islam:
a. Metoda mutual education
b. Metoda pendidikan dengan menggunakan
cara instruksional
c. Metoda pendidikan dengan bercerita
d. Metoda bimbingan dan penyuluhan
e. Metoda pemberian contoh dan teladan
f. Metoda diskusi
g. Metoda soal jawab
h. Metodaimtsal (pemberian perumpamaan)
i.
Metoda
targieb dan tarhieb
j.
Metoda
taubat dan ampunan
k. Metoda acquisition (self education),
explanation dan exposition (petunjuk)
l.
Dll
4. Merancang Bahan Ajar
Disamping
pendekatan dan metode pengajaran, merancang bahan ajar yang mengandung
nilai-nilai Islami sangatlah penting. Ketika belajar bahasa Inggris, para murid
dan guru cenderung membahas tentang nilai dan budaya yang belaku di barat.
Sebagai contoh:
Example
1: Practising phrases.
Asking
for directions
A : Hi, Excuse me. Is there a grocery store around here?
B :
Hi, yes, just turn left, two blocks from the hospital.
A :
Thank you
B :
You’re welcome
Materi percakapan tersebut dapat kita
jumpai pada pembahasan direction: to inform someone how to get to some places
by informing them the directions. Pada percakapan tersebut, kita tidak
menjumpai nilai-nilai Islam tersirat didalamnya. Kita dapat mengganti materi
tersebut menjadi sebagai berikut:
A :
Assalamu’alaikum,
sir. Excuse me. Is there a grocery store around here?
B :
Wa’alaikum salam wr.wb, yes, you just turn left, two blocks from the hospital.
A :
Thank you very much, sir.
B :
You’re welcome.
A :
Assalamu’alaikum
B :
Wa’alaikum salam wr.wb
Giving
directions / suggestions
If you
want to eat Lasagna, it’s better for you to go to italian restaurant. They
provide the original taste.
Kita
dapat mengganti materi tersebut menjadi sebagai berikut:
If you want to eat Muslim
food, you can choose either restaurant
mak minah or pak ahmad.
Example 2: Practising dialogues.
Dialogue
1
Teacher : Tina, could you copy this material
at the photo station?
Tina : Yes, Mam.
Teacher : Thank you
Tina : You’re welcome
Kita
dapat mengantinya menjadi sebagai berikut:
Ustadzah : Aisyah, could you copy this material
at the photo station?
Aisyah :
Insyaallah ustadzah, i will copy it.
Ustadzah : alhamdulillah, thank you.
Aisyah : you’re welcome, ustadzah.
Example
3: Context Clues
Please
find out the meaning of unfamiliar word below, by analyzing the clues.
a.
Throngs of people came to mall
department before Christmas.
Throngs
is . . .
Kita dapat menggantinya menjadi sebagai
berikut:
a.
Throngs of people came to mall
department before idul fitri.
PENUTUP
Berdasarkan uraian diatas, upaya
terintegrasinya pendidikan umum dengan nilai-nilai Islami tidak terlepas dari
universalitas keilmuan yang harus diterapkan dalam proses pembelajaran tanpa
mengedepankan independensi (mencari-cari perbedaan) keilmuan. Keutuhan kerangka
nilai Islami pada setiap kelompok mata pelajaran terintegrasi secara menyeluruh
(integral-holisitk). Dengan
kata lain antara pelajaran umum dan agama terintegrasi dalam bentuk: common matter integrated with religious
matter (mengintegrasikan materi pelajaran umum dengan materi pelajaran
pendidikan agama) yakni nilai-nilai Islami inklusif dalam penyampaian pelajaran
umum atau sebaliknya religious matter
integrated with common matter (mengintegrasikan materi pelajaran agama
dengan mata pelajaran umum) yakni agama tidak mendeskriditkan ilmu-ilmu umum.
Keragaman model, metode dan pendekatan integrated
(terpadu) dengan nilai-nilai Islami sebagai kerangka normatif dapat dijadikan
perspektif baru bagi para pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Keterpaduan
penyelenggaraan pendidikan mengharuskan nilai-nilai pendidikan Islami pada pembelajaran
di sekolah teraplikasikan secara integrated dengan kebutuhan para murid. Pada
realitasnya integrasi pendidikan dapat menghapus pendidikan yang bersifat
paradoks antara ketiga unsur tersebut sehingga berimplikasi terhadap
peningkatan kualitas (nilai) tanggungjawab moral dan akhlak siswa.
[1] QS. At Tahrim 66:7
[2]Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan Islam. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997), h. 16
[3] Oemar Mohammad al-Toumy al-Syaibany.
Filsafat Pendidikan Islam. Cet. 1. (ter) Hasan Langgulung dari Falsafah
al-Tarbiyah al-Islamiyah. (Jakarta: Bulan Bintang, 1997), h. 476
[4] Yulia Sisnawati. 2012. “Reorientasi
Pendidikan Islam”. (retrieve 19 November 2012),
hujair.sanaky@staff.uii.ac.id.htm








