Wednesday, November 27, 2013




INTEGRASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
                                            by Melgis Dilkawaty Pratama, S.Pd
                                            
                                             Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
                            Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
                                                          Tahun 2013
 
Pelajaran bahasa Inggris merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah. Dalam proses pembelajarannya, murid diajarkan bagaimana menerapkan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keahlian mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), maupun menulis (writing). Dalam penyampaiannya, murid harus memperhatikan unsur nilai dan budaya yang berlaku pada bahasa tersebut sehingga mereka dapat menerapkannya secara kontekstual. Perlu diketahui bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa yang berlaku di beberapa negara, seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia, dll. Di negara-negara tersebut, unsur nilai dan budaya yang mereka terapkan sangat jauh berbeda dengan unsur nilai dan budaya di Indonesia, bahkan sebagian dari nilai dan budaya mereka justru bertentangan dengan nilai dan budaya yang dianut oleh penduduk Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim. Sehingga muncul kekhawatiran “more English, less Islam”, semakin banyak pengetahuan tentang bahasa Inggris, semakin berkurang nilai-nilai keIslaman dalam diri seorang murid. Hal ini menjadi landasan renungan bagi banyak pihak terutama di kalangan pendidik tentang bagaimana pendidikan bahasa Inggris dapat menerapkan nilai-nilai Islam sehingga tidak ada istilah dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum.     
 Pendidikan nilai dianggap menjadi jawaban dalam permasalahan tersebut bagi banyak kalangan. Hal ini dikarenakan pendidikan nilai dapat mengembangkan watak optimisme dalam diri manusia, memberikan kesadaran kritis agar manusia mampu mengembangkan penalaran, memanggil kepada manusia akan kebenaran hakiki, dan memberikan pencerahan iman serta akal budi manusia. Pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan yang mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang memiliki semangat kemandirian, sikap demokratis, dan kesadaran nilai yang kuat, disamping kemampuan intelektual yang memadai. Oleh karena itu, melaksanakan pendidikan nilai baik secara khusus maupun dalam keseluruhan dimensi pendidikan menjadi sangat penting untuk diupayakan.
Nilai-nilai Islam yang merupakan nilai yang bersumber langsung dari al-Quran dan Hadits memiliki arti penting dalam pendidikan nilai, terutama bagi umat muslim. Nilai-nilai Islam menjadi landasan yang kuat yang akan mengantarkan manusia menggapai kebahagiaan hidup. Tanpa hal tersebut, segala atribut duniawi, seperti harta, pangkat, iptek, dan keturunan, tidak akan mampu mengantar manusia meraih kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat. Nilai-nilai Islam dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran di sekolah. Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran yang tidak hanya mampu mengantarkan siswa pada ketercapaian pengetahuan (domain kognitif) saja, tetapi juga ketercapaian pemahaman dan penerapan nilai-nilai Islam.  
Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) juga menyuratkan kebutuhan implementasi pembelajaran terintegrasi. Salah satunya dapat dicermati pada SKL Kelompok Ilmu pengetahuan dan Teknologi; membangun  dan menerapkan informasi, pengetahuan, dan   teknologi   secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif; menunjukkan  kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif secara mandiri; menunjukkan  kemampuan  mengembangkan  budaya  belajar  untuk pemberdayaan diri; menunjukkan sikap kompetitif, sportif, dan etos kerja untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang iptek; menunjukkan kemampuan  menganalisis dan memecahkan masalah kompleks; menunjukkan kemampuan menganalisis fenomena alam dan sosial sesuai  dengan kekhasan daerah masing-masing; memanfaatkan lingkungan secara produktif dan  bertanggung jawab, berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai  cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi; menunjukkan kegemaran membaca dan menulis; menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi. Mencermati SKL pada kelompok Ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, jika semua kompetensi tersebut telah dimiliki oleh para murid tanpa disertai pendidikan nilai, maka tentu saja kesalahan interpretasi dalam penerapan kompetensi-kompetensi tersebut dalam kehidupan sehari-hari akan sangat mungkin terjadi. Pengintegrasian nilai-nilai Islam dalam pembelajaran bahasa Inggris diharapkan dapat menjadi arah atau panduan bagi para murid dalam menerapkan kompetensi-kompetensi yang mereka miliki dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pembelajaran terintegrasi diharapkan esensi dari pembelajaran yaitu pengembangan pribadi peserta didik dapat dicapai secara berkelanjutan.
INTEGRASI
Kata “integrasi” berasal dari bahasa latin “integer”, yang berarti utuh atau menyeluruh. Berdasarkan arti etimologis tersebut, integrasi dapat diartikan sebagai pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat. Dalam bahasa Inggris, integrasi berasal dari kata “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan.
Dikotomi yang begitu ketat antara ilmu-ilmu agama dan sekuler, tentunya sangat disayangkan, karena telah mengarah pada pemisahan yang tidak bisa dipertemukan lagi, bahkan cenderung pada penolakan keabsahan masing-masing dengan menggunakan metode yang juga sangat berbeda dari sudut jenis, dan prosedurnya. Demikian tegas pemisahan diantara mereka; sehingga kedua kelompok ilmu tersebut seakan takkan pernah bisa dipersatukan, dan harus dikaji secara terpisah dengan cara dan prosedur yang berlainan. Meskipun demikian, dalam sistem ilmu yang integral-holistik, pemisahan tersebut masih bisa dibatasi dengan cara menemukan basis yang sama bagi keduanya.
Di dalam Islam, tidak ada yang namanya batasan dalam menuntut ilmu, selama ilmu tersebut memberikan manfaat. Pentingnya mempelajari ilmu-ilmu selain ilmu Agama menurut al-Qur’an dan sunnah bisa didasari beberapa alasan, yaitu:
1.        Jika pengetahuan merupakan persyaratan untuk pencapaian tujuan-tujuan Islam dalam hal syariah, maka mencari ilmu tersebut merupakan kewajiban untuk memenuhi kewajiban syariah. Misalnya, mempelajari ilmu obat-obatan karena kesehatan merupakan hal penting dalam Islam.
2.        Al-Qur’an menghendaki umat Islam menjadi umat yang agung dan mulia sehingga tidak bergantung kepada orang kafir. Oleh karena itu umat Islam harus memiliki keahlian di berbagai bidang, sehingga memiliki spesialis hebat dan teknisi handal.
Manusia telah diperintahkan untuk mempelajaran sistem keajaiban alam dan skema pencipt a dalam Al Quran (Qaf: 5-6) sebagai berikut:
óOn=sùr& (#ÿrãÝàZtƒ n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# ôMßgs%öqsù y#øx. $yg»oYøt^t/ $yg»¨Y­ƒyur $tBur $olm; `ÏB 8lrãèù ÇÏÈ   aan manusi
uÚöF{$#ur $yg»tR÷ŠytB $uZøŠs)ø9r&ur $pkŽÏù zÓźuru $uZ÷Fu;/Rr&ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. £l÷ry 8kŠÎgt/ ÇÐÈ   ZouŽÅÇö7s? 3tø.ÏŒur Èe@ä3Ï9 7ö6tã 5=ŠÏYB ÇÑÈ  
Maka Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).[1]
Seringkali kita memahami bahwa ilmu Allah itu terdiri dari ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qouliyah, sebenarnya di dalam QS. Fushshilat (41): 53, mengisyaratkan adanya dua kategori ilmu yang berbeda yaitu ilmu mengenai cakrawala ("afaq") dan ilmu mengenai diri manusia (anfusihim).
óOÎgƒÎŽã\y $uZÏF»tƒ#uä Îû É-$sùFy$# þÎûur öNÍkŦàÿRr& 4Ó®Lym tû¨üt7oKtƒ öNßgs9 çm¯Rr& ,ptø:$# 3 öNs9urr& É#õ3tƒ y7În/tÎ/ ¼çm¯Rr& 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« îÍky­ ÇÎÌÈ  
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri”.
Menurut al-Quran ilmu itu bukan dikategorikan atas dua macam; kauniyah (ilmu-ilmu alam, nomothettic) dan qouliyah (ilmu-ilmu theological), tetapi tiga macam yaitu nafsiyah. Kalau ilmu kauniyah berkenaan dengan hukum alam, ilmu qauliyah berkenaan dengan hukum Tuhan, dan ilmu nafsiyah berkenaan dengan makna, nilai dan kesadaran. Ilmu nafsiyah inilah yang disebut sebagai humaniora (ilmu-ilmu kemanusiaan, heurmeneutic). Meskipun dalam bahasa arab ilmu nafsiyah ialah psikologi. Ketiga macam ilmu tersebut bersumber pada ilmu Allah sebagai satu-satunya sumber kebenaran mutlak, sehingga berbagai derivasi keilmuan merupakan satu kesatuan bukanlah sebuah dikotomi. Secara skematik ketiga macam ilmu (kauniyah, Qouliyah dan nafsiyah) dapat terintegrasi dengan kelompok mata pelajaran sebagai salah satu bentuk spesialisasi integrasi pendidikan Islami dalam pembelajaran.
Dari pembahasan tersebut, al-Quran menganut paham integralistik dalam bidang ilmu pengetahuan. Seluruh Ilmu dari alam raya (ilmu-ilmu fisika, kimia, dll), tingkah laku manusia (ilmu-ilmu sosial), wahyu atau ilham (ilmu agama, tasawuf, filsafat) adalah bersumber dari Allah. Hal lain yang mendasar adalah al-Quran amat menekankan pentingnya hubungan harmonis antara ilmu dan iman. Ilmu tanpa iman akan tersesat, dan iman tanpa ilmu tidak akan berdaya.
PENDIDIKAN NILAI
Pendidikan nilai mencakup seluruh aspek sebagai pengajaran atau bimbingan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan bertindak yang konsisten.
Tujuan pendidikan di sekolah ditentukan oleh kurikulum sekolah. Kurikulum pendidikan nilai di sekolah harus terdiri atas nilai-nilai, norma-norma, kebudayaan dan kegiatan-kegiatan yang mampu membentuk anak didik menjadi manusia berkemampuan tinggi, sehingga dapat mencapai ilmu pengetahuan dan teknologi canggih, mampu mandiri dan berkepribadian.
PENDIDIKAN ISLAM
1.        Hakikat Pendidikan Islam
Nur Uhbiyati mengemukakan pendidikan Islam merupakan konsep berpikir yang bersifat mendalam dan terperinci tentang masalah kependidikan yang bersumberkan ajaran Islam dari mana rumusan-rumusan tentang konsep dasar, pola, sistem, tujuan, metoda dan materi (substansi) kependidikan Islam disusun menjadi suatu Ilmu yang bulat.[2]
Hakikat pendidikan Islam adalah proses membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan anak didik agar menjadi manusia dewasa sesuai tujuan pendidikan Islam. Hakikat Pendikan Islam meliputi lima prinsip pokok, yaitu:
Pertama, proses transformasi dan internalisasi yakni pelaksanaan pendidikan Islam harus dilakukan secara bertahap, berjenjang dan kontinu dengan upaya pemindahan, penanaman, pengarahan, pengajaran, dan pembimbingan yang dilakukan secara terencana, sistematis, dan terstruktur dengan menggunakan pola dan sistem tertentu.
Kedua, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yakni upaya yang diarahkan kepada pemberian dan penghayatan serta pengalaman ilmu pengetahuan dan nilai-nilai.
Ketiga, pada diri anak didik yakni pendidikan itu diberikan kepada anak didik yang mempunyai potensi rohani.
Keempat, melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya yakni tugas pendidikan Islam menumbuhkan, mengembangkan, memelihara dan menjaga potensi laten manusia agar ia tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan, minat, dan bakat-nya.
Kelima, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya, yakni tujuan akhir dari proses pendidikan Islam adalah terbentuknya Insan Kamil.
Dalam perspektif Pendidikan Islam, agar manusia mendapatkan predikat sebagai khlaifah sekaligus sebagai ‘abd, maka harus menuntut ilmu yang sifatnya terpadu. Ilmu atau pengetahuan terpadu dapat didefinisikan sebagai ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui kawasan alam semesta dan alam sekitarnya serta dikirimkan melalui wahyu yang dapat ditangkap oleh para nabi dan rasul. Ilmu yang demikian itu merupakan ilmu yang dijiwai oleh tauhid karena dibimbing oleh “kebenaran mutlak”.
2.        Tujuan Pendidikan Islam
Pada umumnya, tujuan pendidikan Islam diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu: Pertama, tujuan pendidikan jasmani. Kedua, tujuan pendidikan rohani. Ketiga, tujuan pendidikan akal. Keempat, tujuan pendidikan sosial. Sedangkan, tujuan pendidikan menurut membuat klasifikasi sebagai berikut:
Pertama, mengembangkan wawasan spiritual yang semakin mendalam dan mengembangkan pemahaman rasional mengenai Islam dalam konteks kehidupan modern.
Kedua, membekali anak didik dengan berbagai kemampuan pengetahuan dan kebajikan, baik pengetahuan praktis, kesejahteraan, lingkungan sosial, dan pembangunan nasional.
Ketiga, mengembangkan kemampuan pada diri anak didik untuk menghargai dan membenarkan superioritas komparatif kebudayaan dan peradaban Islam di atas semua kebudayaan lain.
Keempat, memperbaiki dorongan emosi melalui pengalaman imajinatif, sehingga kemampuan kreatif dapat berkembang dan berfungsi mengetahui norma-norma Islam yang benar dan yang salah.
            Tujuan akhir pendidikan Islam ialah merealisasikan manusia yang beriman dan bertakwa serta berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan dirinya kepada Khaliknya dengan sikap dan kepribadian bulat yang merujuk kepada penyerahan diri kepadaNya dalam segala aspek hidunya, duniawi dan ukhrawi.
3.    Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan Islam memiliki beberapa prinsip yang harus ditegakkah. Al Syaibani menyebutkan tujuh prinsip kurikulum pendidikan Islam, yaitu:[3]
a.    Prinsip pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran dan nilai-nilainya. Setiap bagian yang terdapat dalam kurikulum, mulai dari tujuan, kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan, dan sebagainya harus berdasarkan pada agama, dan akhlak Islam. Yakni harus terisi dengan jiwa agama Islam, keutamaan, cita-cita, dan kemauan yang baik sesuai dengan ajaran Islam.
b.    Prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan-tujuan dan kandungan kurikulum, yakni mencakup tujuan membina akidah, akal, dan jasmani, dan hal lain yang bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangan spritiual, kebudayaan, sosial, ekonomi, politik termasuk ilmu-ilmu agama, bahasa, kemanusiaan, fisik, praktis, profesional, seni rupa, dan sebagainya.
c.    Prinsip keseimbangan yang relatif antara tujuan-tujuan dan kandungan kurikulum.
d.   Prinsip keterkaitan antara bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan pelajar. Begitu juga dengan alam sekitar baik yang bersifat fisisk maupun sosial dimana pelajar itu hidup dan berinteraksi.
e.    Prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual di antara para pelajar, baik dari segi minat maupun bakatnya.
f.     Prinsip menerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat
g.    Prinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktifitas yang terkandung dalam kurikulum.
INTEGRASI NILAI ISLAM DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
Dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran Bahasa Inggris, ada beberapa aspek yang perlu disinergikan, antara lain:
1.        Pendekatan
Untuk pengintegrasian nilai-nilai islam ke dalam pembelajaran bahasa Inggris, ada beberapa pendekatan yang dapat ditempuh, antara lain:[4]
a.    Pendekatan Kurikuler
Pendekatan Kurikuler ialah suatu pendekatan dimana lembaga pendidikan memberikan warna “Islam dalam kependidikannya. Hal ini dengan mendampingkan ilmu agama dengan ilmu umum. Misalnya, di Universitas Islam Negeri; mendampingkan fakultas umum dan fakultas agama.
b.    Pendekatan kontekstual-fungsional
Pendekatan konstektual- fungsional merupakan upaya menjawab pertanyaan agar semua bidang studi yang disajikan selalu memakai kacamata tinjauan Islam. Namun sandungan utama untuk merealisasikan gagasan ini terletak pada tenaga pengajar. Tidak banyak tenaga pengajar yang dapat menguasai disiplin ilmu umum dan agama sekaligus secara komprehensif.
            Sebagai seorang pendidik, kita dihadapkan pada sifat sekular yang di terapkan oleh pendidik western pada pendekatan pengajaran di semua cabang ilmu pengetahuan. Sementara, kita meyakini bahwa nilai-nilai Islam dapat diterapkan melalui aktifitas dan interaksi antara pendidik dan para murid seperti menerapkan nilai dasar Islam ketika mengucapkan salam, meninggalkan tempat, melaksanakan diskusi, membaca doa ketika memulai dan menutup pelajaran, dll dimana semua aktifitas tersebut juga dapat dibarengi dengan praktik berbahasa Inggris. Sebagai contoh, biasanya dalam mengucapkan salam, guru mengucapkan “Good Morning/Afternoon/Evening. How are you today?”. Kita dapat menggantinya dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum, peace be upon him, and good morning/afternoon/evening, everyone. How are you today?”. Kemudian, jika hendak memulai dan mengakhiri pelajaran, para murid harus berdoa terlebih dahulu. Disamping itu, dalam pengelolaan kelas, kita juga dapat menekankan integritas Islam dalam permasalahan gender. Sedari dini, hendaknya, para murid diperkenalkan untuk duduk terpisah antara laki-laki dan perempuan baik dalam mengerjakan tugas belajar sehari-hari maupun dalam interaksi diskusi. Dengan memperkenalkan aturan tersebut, diharapkan para murid dapat memahami bahwa Islam memiliki aturan yang jelas dalam hal bersosialisasi. Dimulai dari hal-hal yang sederhana, penerapan nilai-nilai Islam dalam konteks kehidupan muslim sehari-hari hendaknya dapat dihayati dengan lebih baik.
2.             Kurikulum Pendidikan
Landasan pokok penyusunan kurikulum Islami harus memuat prinsip: a) Mengandung nilai kesatuan dasar bagi persamaan nilai Islam pada setiap waktu dan tempat; b) mengandung nilai kesatuan kepentingan dalam mengembangkan misi ajaran Islam; c) mengandung materi yang bermuatan pengembangan spiritual, intelektual dan jasmaniah.
Batasan tentang ciri khas kurikulum yang Islami adalah sebagai berikut: 1) Sistem dan perkembangan kurikulum selaras dengam fitrah manusia; 2) diarahkan untuk mencapai target akhir pada peserta didik yaitu ikhlas dan taat beribadah kepada Allah; 3) Memperhatikan periodesasi perkembangan peserta didik, tipologi, sifat, dan gender; 4) hendaknya memelihara segala kebutuhan nyata kehidupan masyarakat sambil tetap bertopang pada jiwa dan cita-cita ideal Islam; 5) tidak menimbulkan pertentangan dalam arti yang umum; 6) dapat direalisasikan sesuai dengan situasi dan kondisi; 7) Bersifat luwes sehingga dapat disesuaikan dengan berbagai kondisi dan situasi setempat dengan mengingat pula faktor peradaban individu yang menyangkut bakat, minat, dan kemampuan anak didik; 8) bersifat efektif, menyampaikan dan menggugah perangkat nilai edukatif yang membuahkan tingkah laku yang positif; 9) memperhatikan perkembangan anak didik (perasaan keagamaan dan pertumbuhan bahasa); 10) Memperhatikan tingkah laku amaliah Islamiah.
Tentang prinsip yang menjadi pertautan dasar kurikulum, al-Syaibani memberikan uraian sebagai berikut; Pertama, pertautan yang sempurna dengan ajaran dan jiwa agama. Kedua, bersifat universal yang meliputi segala aspek pribadi peserta didik. Ketiga, memperhatikan aspek keseimbangan antara spiritual dan material. Keempat, berkaitan dengan bakat dan minat serta kemampuan anak didik dan kondisi sosial lingkungannya. Kelima, pemeliharaan perbedaan individu anak didik, alam sekitar dan masyarakat. Keenam, prinsip perkembangan dan perubahan kurikulum untuk progredifitas dalam rangka menyesuaikan diri dengan perubahan sosial. Ketujuh, pertautan antara mata pelajaran, pengalaman, dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum.
Berdasarkan penjelasan diatas, ada dua proses pengintegrasian nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran bahasa Inggris.
a.         Proses Pertautan
Proses pertautan, melibatkan dua kurikulum, yakni kurikulum agama dan kurikulum bahasa inggris menjadi suatu tautan yang mana masing-masing komponent masih berdiri sendiri dan memiliki karakter tersendiri.


Flowchart: Connector: X







Flowchart: Connector: Kurikulum Agama


Flowchart: Connector: Kurikulum 
Bahasa Inggris







b.        Proses Pencampuran


Flowchart: Connector: Kurikulum 
Bahasa Inggris
Flowchart: Connector: Y







Flowchart: Connector: Kurikulum Agama






 




3.    Metode Pengajaran
Upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai islam dalam pembelajaran Bahasa Inggris tidak hanya berlaku pada pendekatan, dan kurikulum pendidikan, namun juga berlaku pada metode pengajaran. Selain mengembangkan metode pengajaran yang sering digunakan pada pengajaran bahasa inggris,seperti communicative language teaching, collaborative learning, etc. Tenaga pengajar juga dituntut untuk dapat menerapakan metode pengarajan yang diterapkan dalam pendidikan Islam. Berikut metode pengajaran yang diterapkan dalam pendidikan Islam:
a.       Metoda mutual education
b.      Metoda pendidikan dengan menggunakan cara instruksional
c.       Metoda pendidikan dengan bercerita
d.      Metoda bimbingan dan penyuluhan
e.       Metoda pemberian contoh dan teladan
f.       Metoda diskusi
g.      Metoda soal jawab
h.      Metodaimtsal (pemberian perumpamaan)
i.        Metoda targieb dan tarhieb
j.        Metoda taubat dan ampunan
k.      Metoda acquisition (self education), explanation dan exposition (petunjuk)
l.        Dll

4.    Merancang Bahan Ajar
Disamping pendekatan dan metode pengajaran, merancang bahan ajar yang mengandung nilai-nilai Islami sangatlah penting. Ketika belajar bahasa Inggris, para murid dan guru cenderung membahas tentang nilai dan budaya yang belaku di barat. Sebagai contoh:
Example 1: Practising phrases.
Asking for directions
A         : Hi, Excuse me. Is there a grocery store around here?
B         : Hi, yes, just turn left, two blocks from the hospital.
A         : Thank you
B         : You’re welcome
Materi percakapan tersebut dapat kita jumpai pada pembahasan direction: to inform someone how to get to some places by informing them the directions. Pada percakapan tersebut, kita tidak menjumpai nilai-nilai Islam tersirat didalamnya. Kita dapat mengganti materi tersebut menjadi sebagai berikut:
A         : Assalamu’alaikum, sir. Excuse me. Is there a grocery store around here?
B         : Wa’alaikum salam wr.wb, yes, you just turn left, two blocks from the hospital.
A         : Thank you very much, sir.
B         : You’re welcome.
A         : Assalamu’alaikum
B         : Wa’alaikum salam wr.wb
Giving directions / suggestions
If you want to eat Lasagna, it’s better for you to go to italian restaurant. They provide the original taste.
Kita dapat mengganti materi tersebut menjadi sebagai berikut:
If you want to eat Muslim food, you can choose either restaurant mak minah or pak ahmad.
Example 2: Practising dialogues.
Dialogue 1
Teacher            : Tina, could you copy this material at the photo station?
Tina                 : Yes, Mam.
Teacher            : Thank you
Tina                 : You’re welcome
Kita dapat mengantinya menjadi sebagai berikut:
Ustadzah         : Aisyah, could you copy this material at the photo station?
Aisyah             : Insyaallah ustadzah, i will copy it.
Ustadzah         : alhamdulillah, thank you.
Aisyah             : you’re welcome, ustadzah.
Example 3: Context Clues
Please find out the meaning of unfamiliar word below, by analyzing the clues.
a.         Throngs of people came to mall department before Christmas.
Throngs is . . .
 Kita dapat menggantinya menjadi sebagai berikut:
a.         Throngs of people came to mall department before idul fitri.
PENUTUP
Berdasarkan uraian diatas, upaya terintegrasinya pendidikan umum dengan nilai-nilai Islami tidak terlepas dari universalitas keilmuan yang harus diterapkan dalam proses pembelajaran tanpa mengedepankan independensi (mencari-cari perbedaan) keilmuan. Keutuhan kerangka nilai Islami pada setiap kelompok mata pelajaran terintegrasi secara menyeluruh (integral-holisitk). Dengan kata lain antara pelajaran umum dan agama terintegrasi dalam bentuk: common matter integrated with religious matter (mengintegrasikan materi pelajaran umum dengan materi pelajaran pendidikan agama) yakni nilai-nilai Islami inklusif dalam penyampaian pelajaran umum atau sebaliknya religious matter integrated with common matter (mengintegrasikan materi pelajaran agama dengan mata pelajaran umum) yakni agama tidak mendeskriditkan ilmu-ilmu umum. Keragaman model, metode dan pendekatan integrated (terpadu) dengan nilai-nilai Islami sebagai kerangka normatif dapat dijadikan perspektif baru bagi para pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Keterpaduan penyelenggaraan pendidikan mengharuskan nilai-nilai pendidikan Islami pada pembelajaran di sekolah teraplikasikan secara integrated dengan kebutuhan para murid. Pada realitasnya integrasi pendidikan dapat menghapus pendidikan yang bersifat paradoks antara ketiga unsur tersebut  sehingga berimplikasi terhadap peningkatan kualitas (nilai) tanggungjawab moral dan akhlak siswa.


[1] QS. At Tahrim 66:7
[2]Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan Islam. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997), h. 16
[3] Oemar Mohammad al-Toumy al-Syaibany. Filsafat Pendidikan Islam. Cet. 1. (ter) Hasan Langgulung dari Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah. (Jakarta: Bulan Bintang, 1997), h. 476
[4] Yulia Sisnawati. 2012. “Reorientasi Pendidikan Islam”. (retrieve 19 November 2012), hujair.sanaky@staff.uii.ac.id.htm